Fakta-fakta Seputar Tragedi Bintaro 1987

Posted on

33 Tahun lalu persisnya di tanggal 19 Oktober 1987, berlangsung kejadian kecelakaan kereta api yang tewaskan 139 orang serta 254 yang lain alami cedera berat. Kecelakaan celaka yang diketahui dengan Tragedi Bintaro itu dikatakan sebagai salah satunya riwayat gelap dunia transportasi Indonesia.

Dalam kecelakaan ini, serangkaian kereta api Patas Merak jalur Tanah Abang–Merak yang pergi dari Stasiun Kebayoran (KA 220) bertubrukan dengan kereta api Lokal Rangkas jalur Rangkasbitung–Jakarta Kota (KA 225) yang pergi dari Stasiun Sudimara.

Mencuplik wikipedia, berdasar info sah dari Perusahaan Jabatan Kereta Api (PJKA), tempat kecelakaan ada di km 17+252 lintas Angke–Tanah Abang–Rangkasbitung–Merak. Tempat itu ada di kelokan S yang dijepit Jalan Tol Jakarta–Serpong di barat serta Jalan Tol T.B. Simatupang di timurnya. Tempat ini terdapat seputar 1,5 km di samping barat daya TPU Tanah Kusir.

Selesai kecelakaan, penyidikan yang dilaksanakan membuahkan beberapa bukti. Termasuk juga pemicu serta siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi itu. 

Kelengahan Petugas Stasiun

Penyidikan sesudah peristiwa memperlihatkan ada kelengahan Pimpinan Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Sudimara yang memberi signal aman untuk kereta api dari arah Rangkasbitung, walau sebenarnya tidak ada pengakuan aman dari PPKA Stasiun Kebayoran. Ini dilaksanakan sebab tidak ada jalan yang kosong di Stasiun Sudimara.

Kecelakaan Berlangsung Di Pagi Hari

Kejadian itu berlangsung saat pagi hari, seputar jam 07.00 WIB. Saat di mana kereta disanggupi sesak beberapa penumpang yang akan melakukan aktivitas. Waktu itu KA 225 Jalur Rangkasbitung-Jakarta Kota mengusung 1.887 penumpang, melewati catatan kepadatan optimal sampai 200 %. Hingga banyak penumpang yang penuhi lokomotif serta atap gerbong.

Sesaat KA 220 jalur Tanah Abang-Merak bawa 478 penumpang dari kemampuan angkut 685 penumpang. Kepadatannya sentuh angka 72.6 %, masih juga dalam batasan normal.

Korban Meninggal Susah Dikenal

Beberapa ratus orang wafat sesudah 2 serangkaian kereta bertubrukan, terbanyak dari KA 225 yang terpadat penumpangnya.

Korban meninggal 139 orang dengan perincian 72 meninggal dalam tempat serta bekasnya wafat kritis. Dari 139 korban meninggal, 113 salah satunya telah terdeteksi. Keseluruhan 254 beberapa luka, dengan perincian 170 orang dirawat di rumah sakit serta 84 orang cedera enteng.

Masinis serta PPKA Jadi Tersangka

Masinis KA 225, Slamet Suradio, divonis 5 tahun penjara serta harus kehilangan kerjanya. Dia ditahan di Lapas Cipinang serta bebas di 1993.

Di tahun 1994 dia dikeluarkan dari kedudukannya untuk masinis; selanjutnya Nomor Induk Karyawan Perkeretaapiannya, 120035237, ditarik di 1996 oleh Departemen Perhubungan Indonesia. Dia juga tidak mendapatkan uang pensiun.

Nasib yang sama menerpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Syafei harus mengeram di penjara sepanjang 2,5 tahun. Sedang PPKA Stasiun Sudimara serta Stasiun Kebayoran, Djamhari serta Umrihadi, dijatuhi hukuman 10 bulan penjara.

Awalnya Revolusi Dunia Transportasi Indonesia

Sesudah tragedi celaka itu, PJKA serta Menteri Perhubungan berusaha melakukan perbaikan tehnologi, kualitas, serta ketentuan perjalanan kereta api. Diantaranya dengan komputerisasi perjalanan kereta, pengerjaan rel ganda, serta larang penumpang naik ke lokomotif serta atap gerbong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *